Analisa Saham Green Power Group (LABA) Q3 2025 [Terbaru]
LABA rebound 12,5% ke Rp99 tapi masih turun 73% dari ATH Rp366. Revenue TTM Rp48 miliar vs target Rp621 miliar di 2025 yang meleset total. CFO negatif Rp64 miliar dan governance suram pasca deportasi Dirut membuat LABA bukan untuk sembarang investor.
Disclaimer:
Analisis ini bukan nasihat investasi. Saham berisiko tinggi—lakukan riset mandiri (DYOR - Do Your Own Research) dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan. Hasil masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Green Power Group (LABA): Mantan Bos Dideportasi, EBT Masih Janji — Di Mana Kepastiannya?h1
Tanggal Analisis: 23 Mei 2026 Harga Acuan: Rp99 (penutupan 22 Mei 2026, naik +12,50%) Kurs Acuan: ~Rp17.676/USD
1. Ringkasan Eksekutif & Ratingh2
LABA ditutup di Rp99 kemarin, rebound 12,50% dari low harian Rp83. Tapi itu hanya noise di tengah gambar besar yang jauh lebih brutal: dari ATH Rp366 di Juli 2025, harga sudah runtuh 73%. Dalam satu tahun terakhir, saham ini turun 34%; YTD minus 38%.
Yang membuat LABA berbeda dari saham EBT spekulatif lainnya adalah satu fakta yang tidak bisa diabaikan: Direktur Utama-nya, An Shaohong, dideportasi ke China pada Desember 2025 karena statusnya sebagai buronan pemerintah China. Manajemen mengakui sempat kehilangan kontak dengan pria yang selama ini menjadi arsitek transformasi bisnis dari baja ke energi terbarukan itu. RUPSLB Januari 2026 gagal kuorum. Baru pada 3 Februari 2026, Dirut baru Chen Xiao Xiao — mantan Komisaris berusia 40 tahun, lulusan Southwest Petroleum University China — resmi dilantik.
Sementara governance sedang goyang, target finansial 2025 yang ambisius — revenue Rp621 miliar, laba bersih Rp40 miliar — meleset jauh sekali. Revenue TTM per data terakhir hanya Rp48 miliar, dan laba bersih TTM Rp4 miliar. Selebihnya: CFO negatif Rp64 miliar, FCF negatif Rp65 miliar, dan P/B mendekati nilai buku (0,99x) setelah koreksi panjang.
Rating: AVOID untuk investasi. Speculative Trading Only di Rp83–100 untuk trader yang benar-benar paham risiko governance, liquiditas, dan model bisnis yang masih transisional.
2. Profil Perusahaan, Transformasi Bisnis, dan Posisi Pasarh2
PT Green Power Group Tbk berdiri tahun 1989 dengan nama PT Ladangbaja Murni Tbk — distributor dan manufaktur produk baja khusus mold dan rule die di Cikarang, Bekasi. Selama 30-an tahun, bisnis ini berjalan di segmen sempit industri logam.
Semuanya berubah sejak Juli 2024. PT Nev Stored Energy (Nev) dan PT Longpin Investasi Indonesia bersama-sama mengakuisisi 50,75% saham LABA dari pemegang lama seharga Rp53,12 per saham. Pengendali baru ini — keduanya entitas dengan latar belakang bisnis China — langsung membelokkan arah bisnis ke ekosistem energi baru terbarukan (EBT) dan kendaraan listrik. Nama perusahaan diganti dari Ladangbaja Murni menjadi Green Power Group per Juli 2024.
Transformasi dirancang melalui tiga lini: pertama, PT Green Power Battery (GPB), anak usaha untuk memproduksi battery pack kendaraan listrik dengan partner PT Gotion Indonesia Materials (afiliasi CATL China); kedua, PT Sustainable Energy Development Trading (SEDT), bergerak di impor-ekspor produk EBT lintas batas termasuk anak usaha di Hainan, China; dan ketiga, bisnis stasiun tukar baterai (SPBKLU) untuk ojek online dan kendaraan roda dua. Selain itu, pada 2025 LABA juga mengumumkan akuisisi 65% PT Aceh Mineral Abadi untuk mengamankan pasokan bahan baku baterai dari tambang tembaga dan emas di Aceh, serta rencana akuisisi PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) bersama Rich Step International Ltd asal Hong Kong.
Di atas kertas, ambisi ini mengikuti tren besar yang benar: pemerintah Indonesia menargetkan 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta unit motor listrik di jalan pada 2030, dan kebijakan subsidi PPN DTP untuk EV yang baru (Mei 2026) mulai condong mendukung baterai berbasis nikel domestik. Tapi di lapangan, realisasi revenue LABA masih sangat jauh dari ambisinya.
3. Model Bisnis dan Siklus Saat Inih2
LABA saat ini berada persis di persimpangan antara bisnis lama yang mengecil dan bisnis baru yang belum menghasilkan. Bisnis baja original masih ada tapi sudah bukan prioritas. Revenue TTM Rp48 miliar pada dasarnya belum mencerminkan kontribusi penuh ekosistem EBT — sebagian besar masih berasal dari penjualan steel dan produk mold.
Gross margin 54% terlihat tinggi, tapi ini bisa merefleksikan mix produk dengan volume kecil. Gross profit Rp21 miliar berhadapan dengan beban usaha yang besar (admin, SDM, overhead holding), menghasilkan EBITDA TTM hanya Rp6 miliar dan net income Rp4 miliar. Siklus bisnis saat ini adalah siklus investasi awal — uang keluar lebih banyak dari yang masuk, tercermin dari CFO negatif Rp64 miliar dan CFF positif Rp77 miliar (artinya bergantung pada pendanaan eksternal untuk menutup kebutuhan operasional dan investasi).
Pertumbuhan revenue quarter YoY memang impresif di atas kertas: Revenue +671%, Gross Profit +1.147%, Net Income +215%. Tapi base-nya sangat rendah (dari near-zero), sehingga persentase besar ini hanya mencerminkan momentum awal yang belum bisa dijadikan proyeksi kecepatan pertumbuhan jangka menengah.
4. Analisis Fundamentalh2
Neraca — Relatif Bersih, tapi Kecil
Total aset Rp157 miliar (per data TTM) dengan total liabilitas Rp40 miliar dan ekuitas Rp118 miliar. DER 0,13x — sangat rendah, tidak ada tekanan leverage. LT debt Rp13 miliar dan ST debt Rp1 miliar. Altman Z-Score 4,46 jauh dari distress. Current ratio 2,25x dan quick ratio 1,63x mencerminkan likuiditas jangka pendek yang masih terjaga.
Yang anomali adalah working capital Rp33 miliar yang positif tapi CFO negatif Rp64 miliar. Ini mengindikasikan perusahaan sedang “membakar” kas untuk investasi dan operasional yang belum menghasilkan arus kas masuk. Kas Rp1 miliar saja menunjukkan buffer sangat tipis — jika ada kebutuhan dana mendadak, pendanaan eksternal hampir pasti diperlukan.
Profitabilitas — Masih Sangat Awal
ROE 3,36%, ROA 2,36%, ROIC 5,48% — semua angka rendah, mencerminkan bisnis yang baru dalam tahap pembangunan. EPS TTM Rp3,37, tapi ini basisnya masih sangat kecil (revenue Rp48 miliar untuk perusahaan bermarket cap Rp109 miliar di P/S 2,27x). Days Sales Outstanding 91,96 hari, Cash Conversion Cycle 242,24 hari — siklus konversi kas yang panjang sekali, menunjukkan piutang membutuhkan waktu lama untuk cair.
Piotroski F-Score 5 dari 9 — moderat, mengindikasikan kualitas keuangan sedang-sedang saja, bukan distress tapi juga bukan excellent.
5. Analisis Valuasih2
Di harga Rp99, LABA diperdagangkan di P/B 0,99x — hampir tepat di nilai buku per saham (Rp100,24). Ini bisa dibaca sebagai “diskon ke nilai buku” atau sekadar refleksi bahwa pasar tidak mempercayai nilai aset yang tertera di neraca sepenuhnya.
P/E TTM 29,37x untuk net income Rp4 miliar dari market cap Rp109 miliar. P/S 2,27x untuk revenue Rp48 miliar. EV/EBITDA 21,43x. Tidak ada angka yang murah secara absolute untuk bisnis yang belum membuktikan skalabilitas.
Target manajemen Rp621 miliar revenue FY2025 meleset sangat jauh — hanya terealisasi kurang dari 8%. Ini adalah bukti paling konkret bahwa eksekusi LABA tertinggal jauh dari narasi. Kalau pun target revenue FY2026 diasumsikan lebih rendah, katakanlah Rp150–200 miliar, pada P/S 2x, valuasi wajar hanya di kisaran Rp130–180 miliar market cap, atau Rp118–164 per saham — sedikit di atas harga saat ini, tidak memberikan margin aman yang berarti.
6. Analisis Teknikalh2
LABA berada dalam downtrend panjang sejak ATH Rp366 (Juli 2025). Dari sana hingga low Rp83 kemarin — koreksi 77%. Rebound hari ini ke Rp99 hanya mengambil kembali sebagian kecil dari koreksi tersebut.
Struktur MA masih bearish berat: harga (Rp99) berada jauh di bawah MA10 (Rp111), MA100 (Rp133), dan MA200 (Rp220). Bahkan menembus MA10 yang paling dekat pun membutuhkan kenaikan lagi lebih dari 12% dari level penutupan kemarin. MA200 di Rp220 adalah target yang masih sangat jauh — lebih dari 120% dari harga saat ini.
RSI(10) di 34,1 — mendekati oversold tapi belum benar-benar masuk zona tersebut. Ada ruang untuk technical bounce lanjutan. MACD (5,21,8) masih bearish: MACD -14,52, Signal -9,09, Histogram -5,43 — bearish melebar, belum ada tanda reversal. Bandar Movement -3,78 juta mengkonfirmasi distribusi masih berlangsung. Net Foreign Buy/Sell -81,83 juta — asing net sell; ini bukan saham yang dikoleksi institusi asing.
Volume hari ini 50,17 juta jauh di atas MA20 (38,8 juta) — ada buyer yang masuk, tapi siapa yang menjual ke mereka?
Level kunci:
- Support terkuat: Rp83 (low kemarin, juga area terendah dalam 1 tahun)
- Support psikologis: Rp90 (pembukaan hari kemarin sebelum rally)
- Resistance pertama: Rp111 (MA10) — harus ditutup di atas ini untuk menyebut tren berbalik
- Resistance sedang: Rp133 (MA100)
- Resistance tinggi: Rp180–220 (area konsolidasi pre-crash + MA200)
7. Faktor Eksternal dan Konteks Pasarh2
Sektor EBT dan Kendaraan Listrik Indonesia 2026
Konteks kebijakan untuk bisnis LABA sebenarnya sedang menguntungkan secara arah. Konflik AS–Iran yang menutup Selat Hormuz membuat harga Brent melonjak ke USD109/barel per Mei 2026, mempercepat urgensi transisi energi di Indonesia. Pemerintah baru saja mengumumkan rencana subsidi PPN DTP untuk EV berbasis baterai nikel domestik — kebijakan yang secara langsung mendukung ekosistem baterai lokal yang sedang dibangun LABA melalui GPB dan kerja sama dengan Gotion Indonesia.
Target ESDM 2 juta unit mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada 2030 memberikan pasar yang sangat besar. Kontrak penyewaan motor listrik LABA dengan ECGO dan EVMOTO untuk pengemudi ojek online — model Rp40 ribu per hari sewa motor + Rp15 ribu per hari sewa baterai — adalah model yang masuk akal jika skala bisa dicapai.
Tapi “masuk akal jika skala bisa dicapai” adalah kondisi yang berat untuk perusahaan dengan revenue Rp48 miliar, manajemen yang baru berganti, dan governance yang baru saja melewati krisis kepemimpinan.
Risiko Governance yang Tidak Bisa Diremehkan
Deportasi An Shaohong ke China karena statusnya sebagai buronan pemerintah China adalah insiden governance yang bukan biasa-biasa. Ini menimbulkan pertanyaan serius: seberapa dalam due diligence yang dilakukan ketika Nev Stored Energy dan Longpin Investasi mengakuisisi LABA dan menempatkan An sebagai Dirut? Transaksi-transaksi akuisisi yang diumumkan sepanjang 2025 — tambang emas di Aceh, BKPJ, mitra di Hainan — seberapa banyak yang sudah berjalan sebelum An pergi?
Dirut baru Chen Xiao Xiao resmi menjabat per Februari 2026 untuk masa jabatan lima tahun hingga 2031. Tapi track record-nya di LABA sendiri masih kosong, dan konteks bisnis yang ia warisi sangat kompleks: ekosistem EBT yang baru separuh dibangun, kontrak-kontrak yang belum jelas statusnya, dan aksi korporasi bergantai yang belum ada update resminya.
IHSG dan Kondisi Umum
IHSG dalam tekanan berat sepanjang 2026 dengan net sell asing yang masif. Saham kecil seperti LABA — market cap Rp109 miliar, rata-rata volume harian Rp3–5 miliar — sangat rentan terhadap tekanan likuiditas. Free float 62,66% terbilang tinggi untuk emiten seukuran ini, tapi dalam volume yang kecil, exit investor besar bisa menggerakkan harga secara signifikan.
8. Scenario Analysish2
Bull: Chen Xiao Xiao berhasil stabilkan manajemen, melanjutkan kontrak suplai baterai yang sudah ada, dan GPB mulai memproduksi battery pack untuk ECGO/EVMOTO dalam skala komersial. Revenue FY2026 menembus Rp150 miliar. Akuisisi BKPJ selesai dan membuka peluang bisnis konstruksi EBT yang lebih besar. IHSG recovery membantu sentimen. Target: Rp150–200.
Base: Konsolidasi manajemen berlangsung lambat. Revenue FY2026 di kisaran Rp80–120 miliar — pertumbuhan ada tapi jauh dari target. Bisnis baterai mulai menghasilkan tapi scale belum signifikan. Harga bergerak sideways di Rp85–130 dengan volatilitas tinggi.
Bear: Akuisisi-akuisisi dari era An Shaohong ternyata bermasalah secara legal atau operasional. Kas habis, pendanaan eksternal sulit. Manajemen baru tidak mampu mengeksekusi pipeline kontrak. Revenue stagnan atau turun. Harga kembali ke bawah Rp70.
9. Rekomendasi Investasi & Aksi Praktish2
Rating: AVOID untuk investasi. Speculative trading only di Rp83–100, posisi maksimal 1–2% portofolio.
Dari sudut pandang value investing, tidak ada margin of safety yang cukup. Target revenue yang meleset lebih dari 90% dari guidance; CFO negatif; governance baru saja melewati krisis; bisnis utama EBT belum menghasilkan cash flow berarti. P/B hampir 1x bukan “murah” untuk bisnis yang revenue-nya masih Rp48 miliar.
Bagi trader yang ingin masuk di momentum oversold:
| Setup | Level | Alokasi | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Bounce dari low | Rp83–95 | Maks 1–2% | Hanya jika volume beli dominan |
| Breakout MA10 | Rp111–120 | Maks 1% tambahan | Konfirmasi tren berbalik, bukan kejar |
| Tidak masuk | Di atas Rp130 | — | Mengejar setelah resistances tertembus tanpa konfirmasi |
Target dan Stop:
- Target 1: Rp111 (MA10) — hanya 12% dari harga saat ini; tidak layak kecuali dengan posisi sangat kecil
- Target 2: Rp133 (MA100) — +34%, hanya relevan jika ada catalyst fundamental nyata
- Stop loss: Rp78 (di bawah low terbaru Rp83, memberi sedikit buffer untuk noise)
- Risk/Reward dari Rp95: 1<1>1>,8 ke target MA10 — pas-pasan, tidak superior
10. Checklist Monitoringh2
Fundamental yang paling kritis:
- Laporan keuangan FY2025 penuh — apakah revenue tahunan dan laba bersih mencerminkan akselerasi atau masih flat
- Status kontrak suplai baterai dengan ECGO dan EVMOTO — berapa unit yang sudah terpenuhi dari target 31.000 unit
- Update resmi status akuisisi BKPJ (KRYA) dan PT Aceh Mineral Abadi pasca era An Shaohong
- CFO: kapan menjadi positif — ini indikator bahwa bisnis EBT sudah menghasilkan, bukan hanya menyerap investasi
Governance dan aksi korporasi:
- Langkah pertama Chen Xiao Xiao sebagai Dirut — keterbukaan informasi apapun yang mengindikasikan arah bisnis 2026
- Apakah kontrak-kontrak besar yang diumumkan An Shaohong masih valid di bawah manajemen baru
- Kemungkinan rights issue atau pendanaan eksternal — kas Rp1 miliar sangat tipis untuk ambisi bisnis sebesar ini
- Update status SPBKLU (stasiun tukar baterai) — apakah sudah operasional dan berapa jumlahnya
Perubahan regulasi:
- Implementasi detail subsidi PPN DTP untuk EV berbasis baterai NMC/nikel — kebijakan yang baru (Mei 2026) ini bisa menjadi tailwind langsung untuk GPB jika kualifikasi produk terpenuhi
- Kebijakan TKDN baterai — apakah GPB sudah memenuhi syarat TKDN yang dibutuhkan
Red flags / exit:
- Berita apapun tentang permasalahan hukum yang melibatkan manajemen lama (An Shaohong) yang berdampak ke aset atau kontrak LABA
- Laporan keuangan Q1 2026 yang menunjukkan revenue di bawah Rp10 miliar — artinya bisnis baru tidak bergerak
- Rights issue dengan harga pelaksanaan di bawah Rp83 — dilusi besar pada valuasi rendah
- Ditutup di bawah Rp78 secara sustained — sinyal selloff struktural, bukan sekadar noise
11. Kesimpulanh2
LABA adalah salah satu saham yang paling kompleks untuk divaluasi di IDX saat ini. Di satu sisi, bisnisnya berada di jalan yang benar: ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia sedang dalam fase akselerasi kebijakan, dan konteks geopolitik yang mendorong urgensi transisi EBT hanya akan mempercepat momentum itu. Di sisi lain, bisnis ini masih sangat kecil (revenue Rp48 miliar), manajemennya baru berganti setelah krisis deportasi Dirut yang dramatis, target besar yang pernah diumumkan meleset jauh, dan arus kas masih negatif.
Harga Rp99 — hampir tepat di nilai buku per saham Rp100,24 — bisa terlihat “murah” dari sudut pandang P/B. Tapi nilai buku yang tertera mencakup aset dan investasi yang belum terbukti menghasilkan revenue signifikan. Tanpa bukti bahwa bisnis EBT bisa scale — setidaknya revenue Rp100+ miliar dan CFO positif — saham ini tetap masuk kategori speculative play, bukan value play.
Verdict singkat: AVOID untuk investasi. Speculative trading di Rp83–100 hanya untuk trader berpengalaman, posisi maksimal 1–2%, stop di Rp78. Pemantauan governance dan revenue Q1/Q2 2026 adalah kunci sebelum mempertimbangkan posisi lebih besar.
Disclaimerh2
Analisis ini hanya untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan rekomendasi personal untuk membeli atau menjual efek tertentu. Data diambil dari laporan keuangan publik, keterbukaan informasi BEI, IndoPremier, IDXChannel, Kontan, PintarSaham, dan sumber tepercaya lain yang diyakini akurat namun tidak dijamin kebenarannya per 23 Mei 2026.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor. Pertimbangkan berkonsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum berinvestasi di saham speculative dengan volatilitas ekstrem dan risiko governance.
Comments