Analisis Saham Nusa Raya Cipta (NRCA) FY2025: Turun 74% dari ATH, Tapi Fundamentalnya Justru Solid
NRCA crash dari Rp2.160 ke Rp555 setelah rumor Prajogo terbukti tidak berdasar. Tapi di Rp555: P/E 8x, P/B 0,99x, net cash Rp318 miliar, laba FY2025 +115%, dividen yield 4%. Ini value play nyata — kalau mau sabar nunggu teknikal berbalik.
Disclaimer:
Analisis ini bukan nasihat investasi. Saham berisiko tinggi—lakukan riset mandiri (DYOR - Do Your Own Research) dan konsultasi dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum mengambil keputusan. Hasil masa lalu tidak menjamin kinerja masa depan.
Analisis Saham Nusa Raya Cipta (NRCA) FY2025: Turun 74% dari ATH, Tapi Fundamentalnya Justru Paling Solid Malam Inih1
Tanggal Analisis: 17 Mei 2026
Harga Acuan: Rp555 (penutupan 16 Mei 2026)
Kurs Acuan: ~Rp17.310/USD
1. Ringkasan Eksekutif & Ratingh2
NRCA memiliki fundamental yang kuat dan harganya benar-benar murah. Laba FY2025 melonjak 115% ke Rp175,52 miliar, P/E TTM hanya 7,99x (di bawah median IHSG 8,56x), P/B 0,99x (di bawah nilai buku!), net cash position Rp318 miliar (Rp127 per saham), dan dividend yield 3,96%. Ini adalah profil emiten konstruksi swasta berkualitas yang sedang dijual pasar di harga cuci gudang.
Masalahnya ada di teknikal dan timing. Harga Rp555 sudah -74% dari ATH Rp2.160 (Desember 2025), tapi struktur teknikal masih sangat bearish: harga jauh di bawah MA10 (Rp594), MA100 (Rp953), dan MA200 (Rp961). Volume harian hanya 3,12 juta — 18% dari rata-rata 17,16 juta. Net foreign sell -Rp251,5 juta. RSI 39,3 mendekati oversold. Bandar Movement -1,9 juta.
Tapi penting untuk dipahami: ATH Rp2.160 itu sendiri adalah harga yang tidak wajar, didorong rumor akuisisi Prajogo Pangestu yang kemudian dibantah manajemen dan memicu UMA dari BEI. NRCA bukan saham yang pantas diperdagangkan di Rp2.160, tapi juga tidak pantas di Rp555 mengingat kualitas bisnisnya.
Rating:
ACCUMULATE bertahap di zona Rp520–570 untuk investor nilai dengan horison 12–18 bulan.
HOLD untuk pemegang saat ini — tidak perlu panik jual di level ini.
Avoid untuk trader jangka pendek — teknikal belum memberi sinyal reversal yang meyakinkan.
Target 12 bulan: Rp750–900. Stop-loss struktural: penutupan di bawah Rp480.
2. Profil Perusahaan & Posisi Pasarh2
PT Nusa Raya Cipta Tbk adalah kontraktor konstruksi swasta yang didirikan pada 1968 — salah satu yang tertua di Indonesia. Perusahaan ini adalah anak usaha dari PT Surya Semesta Internusa Tbk (SSIA) dan berkantor pusat di Jakarta. NRCA mengerjakan konstruksi gedung (hotel, resort, perkantoran, apartemen, rumah sakit, pusat perbelanjaan, pabrik) dan infrastruktur (jalan, jembatan, pelabuhan).
Keunggulan kompetitif NRCA ada pada reputasi 50 tahun lebih, spesialisasi di high-rise building yang membutuhkan keahlian teknis tinggi, dan track record dengan klien swasta premium. Berbeda dari BUMN Karya yang terbenam hutang, NRCA secara konsisten profitable dan punya neraca yang sehat.
Investasi strategis NRCA mencakup 22% saham di PT Jasa Marga Akses Patimban (JAP) — perusahaan pengusaha ruas Tol Akses Patimban bersama Jasa Marga, Adhi Karya, PP, Wika, dan Subang Sejahtera. NRCA juga mengerjakan konstruksi Tol Patimban Paket I bersama Adhi Karya. Ini adalah aset investasi jangka panjang yang nilainya belum sepenuhnya tercermin di harga saham.
Pemegang saham utama: SSIA (pengendali), Saratoga (SRTG / Sandiaga Uno) dengan 5,98%, dan publik dengan free float 20,46%.
3. Kronologi Harga: Dari Rp300 ke Rp2.160, Lalu Crash ke Rp555h2
Memahami mengapa NRCA bisa di level ini membutuhkan rekonstruksi kronologi harga setahun terakhir:
Fase rally (pertengahan 2025). Saham NRCA bergerak dari kisaran Rp300 perlahan mengikuti perbaikan kinerja. Fundamental memang membaik: pendapatan 9M2025 tumbuh 4,77% dan laba melesat.
Fase pump ekstrem (November–Desember 2025). Saham meledak ke ATH Rp2.160 — kenaikan 6x dalam hitungan bulan. BEI menetapkan status UMA (Unusual Market Activity) dan sempat mensuspensi. NRCA diminta Public Expose Insidentil. Manajemen menjawab bahwa tidak ada informasi atau fakta material, tidak ada rencana aksi korporasi. Beredar rumor bahwa Prajogo Pangestu (taipan Chandra Daya Investasi / CDIA) berencana mengakuisisi NRCA untuk memperkuat ekosistem infrastruktur. Rumor ini tidak pernah terkonfirmasi.
Fase distribusi (Desember 2025 – Januari 2026). Saratoga (SRTG) mulai menjual saham NRCA secara bertahap — memang dalam jumlah kecil (750.000 saham di Rp1.218 pada Januari 2026), tapi sinyal profit taking dari investor institusional dibaca pasar sebagai tanda bahwa upside sudah terbatas. NRCA masuk daftar 10 saham paling jeblok sepekan pada awal Januari 2026.
Fase crash (Januari–Mei 2026). Dari Rp1.750 di awal 2026, NRCA terus melemah ke Rp555 saat ini — turun 63,61% YTD dan 74% dari ATH. Koreksi yang tadinya diprediksi sehat oleh analis RHB dan Maybank (target wait & see di Rp1.210) ternyata jauh lebih dalam.
4. Model Bisnis & Struktur Pendapatanh2
NRCA menghasilkan pendapatan dari tiga segmen utama: konstruksi gedung bertingkat tinggi (high-rise), konstruksi infrastruktur, dan investasi di entitas asosiasi (JAP).
Segmen konstruksi adalah core business — NRCA berperan sebagai kontraktor utama yang mengambil proyek dari swasta maupun pemerintah, lalu mengeksekusi dengan tim internal dan subkontraktor. Margin konstruksi gedung berkualitas tinggi lebih baik dari konstruksi massal. Gross margin FY2025 sekitar 11,4% (Rp405 miliar dari Rp3.560 miliar revenue) — angka yang reasonable untuk sektor ini.
Karakter bisnis konstruksi mempengaruhi laporan keuangan secara signifikan: pendapatan diakui menggunakan metode percentage of completion, artinya revenue bergantung pada kemajuan proyek. Tagihan bruto kepada pemberi kerja melonjak dari Rp422 miliar ke Rp683 miliar di FY2025 — ini bukan piutang macet, tapi cerminan banyaknya proyek yang sedang berjalan tapi belum ditagihkan sepenuhnya.
Cash conversion cycle -23 hari adalah angka yang sehat untuk konstruksi: NRCA menerima pembayaran lebih cepat dari rata-rata sektornya, atau memiliki deferred revenue yang menguntungkan dari uang muka proyek.
Dividend policy: payout ratio 34,41% dengan track record konsisten membayar dividen sejak 2020.
5. Analisis Fundamental Ringkash2
Profitabilitas. FY2025 adalah tahun terbaik NRCA dalam beberapa tahun: revenue Rp3,61 triliun (+7,1% YoY), laba bersih Rp175,52 miliar (+115,1% YoY dari Rp81,60 miliar di 2024). Pertumbuhan laba yang jauh melampaui pertumbuhan revenue menunjukkan ekspansi margin yang signifikan — dari margin bersih ~2,4% di 2024 menjadi ~4,9% di 2025. EBITDA Rp290 miliar, EV/EBITDA hanya 3,68x.
ROE 12,33%, ROCE 18,56%, ROIC 16,27% — ini adalah angka yang solid untuk kontraktor swasta. Dibandingkan BUMN Karya yang semuanya merugi triliunan di 2025, NRCA adalah kontras yang mencolok.
Q1 2026 sedikit melemah: revenue -5,82% YoY, net income -4,99% YoY (Rp40 miliar vs Rp42 miliar). Ini normal untuk konstruksi yang bersifat musiman — bukan tanda penurunan struktural.
Neraca & Net Cash. Ini yang paling menarik: NRCA punya net cash position Rp318 miliar (Rp127/saham). Cash Rp669 miliar vs total debt hanya Rp351 miliar. Current ratio 1,82x. DER 0,25x. Altman Z-Score 5,09 — jauh dari zona distress. Working capital Rp1,147 triliun. Tidak ada long-term debt yang berarti (hanya Rp4 miliar).
Angka yang perlu disorot: dengan harga Rp555, investor membayar harga saham yang sebagian besar sudah terkompensasi oleh kas per saham Rp267 dan book value per saham Rp563. Harga Rp555 ini hampir = book value (P/B 0,99x).
Arus Kas. OCF TTM Rp59 miliar, FCF TTM Rp49 miliar (FCF per share Rp19,83). FCF masih positif meski tidak sebesar laba bersih — ini normal untuk bisnis konstruksi yang working capital-intensif.
6. Analisis Teknikalh2
NRCA saat ini berada dalam downtrend yang parah dan belum ada sinyal pembalikan yang meyakinkan:
Struktur harga. Harga Rp555 berada jauh di bawah semua MA: MA10 (Rp594), MA100 (Rp953), dan MA200 (Rp961). Jarak antara harga saat ini dengan MA100 dan MA200 sekitar 70% — ini mencerminkan betapa dalamnya penurunan dan betapa jauhnya target pemulihan teknikal. VPVR menunjukkan rata-rata transaksi selama periode ini di Rp975 — hampir 2x harga saat ini. Artinya mayoritas pemegang yang masuk dalam 1 tahun terakhir sedang dalam kondisi rugi besar.
Momentum. RSI 14 di 39,3 — mendekati oversold (di bawah 30) tapi belum sampai. Ini menarik: biasanya ketika RSI menyentuh atau mendekati 30 pada saham fundamentally strong, itu adalah zona akumulasi yang baik. MACD (5,21,8): MACD -41,52, Signal -26,36, Histogram -15,16. Masih bearish, tapi perlu dipantau apakah histogram mulai menyempit — itu akan menjadi sinyal divergence awal.
Volume & flow. Volume harian hanya 3,12 juta — hanya 18% dari rata-rata 17,16 juta. Volume yang sangat tipis mengindikasikan selling sudah berkurang drastis: bukan banyak pembeli masuk, tapi penjual sudah kehabisan. Net Foreign Sell -Rp251,5 juta — asing masih keluar tapi dalam volume yang mengecil. Bandar Movement -1,9 juta — distribusi kecil, bukan yang masif.
Level kritis:
- Resistance: Rp594 (MA10 — tembus ini = sinyal awal reversal), Rp700 (psikologis), Rp875 (3M high), Rp953–961 (MA100/MA200)
- Support: Rp545 (low hari ini), Rp525 (1W low), Rp486 (52W floor dari 6M/YTD range), Rp300 (1Y low, level awal sebelum seluruh rally)
7. Scenario Analysis & Sensitivitash2
Operasional & pipeline proyek. NRCA sedang finalisasi target kontrak 2026, mencari proyek gedung bertingkat tinggi baru: hotel, apartemen, perkantoran, RS, mal, dan infrastruktur. Dengan backdrop proyek data center yang sedang boom dan investasi EV manufaktur (BYD, dll.) di kawasan industri, ada pipeline proyek bangunan industri dan komersial yang bisa masuk ke backlog NRCA. Kunci: apakah backlog Q1 2026 bertumbuh atau menyusut? Data revenue -5,82% di Q1 2026 memberi sinyal kehati-hatian — perlu dikonfirmasi dengan update backlog.
Investasi JAP (Tol Patimban). Investasi 22% di JAP adalah katalis jangka panjang yang belum diperhitungkan pasar. Tol Akses Patimban menghubungkan kawasan industri dan Pelabuhan Patimban — volume traffic akan bertumbuh seiring kenaikan utilisasi pelabuhan. Jika JAP mulai membagi dividen atau nilai investasinya mark-to-market, ini bisa menjadi upside surprise di laporan keuangan.
Aksi korporasi. Tidak ada indikasi rights issue atau akuisisi. Saratoga masih memegang 5,98% — penjualan kecil mereka di Januari 2026 adalah profit taking, bukan exit. Buyback saham belum diumumkan, tapi dengan net cash Rp318 miliar dan harga di bawah book value, ini adalah opsi logis yang bisa memberi sinyal positif ke pasar.
Regulasi & makro konstruksi. Suku bunga BI masih di 4,75% (Maret 2026) — cost of fund bagi klien masih relatif tinggi, menahan sebagian proyek properti dan gedung baru. Pelemahan rupiah menekan harga material impor. Ini adalah headwind nyata untuk sektor konstruksi secara keseluruhan di 2026.
Sentimen & peer. Dibandingkan TOTL (Total Bangun Persada) yang laba +56% di 2025, NRCA dengan laba +115% seharusnya mendapat rerating lebih positif. Tapi NRCA kena dampak residual dari episode pump-UMA yang membuat investor institusional berhati-hati. Ketika sentiment kembali ke normal dan episode itu terlupakan, NRCA seharusnya kembali ke valuasi yang lebih layak.
| Skenario | Asumsi | Target Harga Indikatif |
|---|---|---|
| Bull | Backlog 2026 bertumbuh, laba FY2026 Rp180–200 miliar, JAP mulai kontribusi, PE re-rating ke 12–15x | Rp900–1.100 |
| Base | Laba FY2026 flat Rp160–175 miliar, PE bertahan 8–10x | Rp700–850 |
| Bear | Kontrak baru melambat, margin tertekan material import, laba turun ke Rp100–120 miliar | Rp450–530 |
8. Risiko Utamah2
| Risiko | Dampak | Probabilitas | Catatan |
|---|---|---|---|
| Teknikal masih bearish — semua MA jauh di atas harga | Tinggi | Faktual | Butuh waktu berbulan-bulan untuk MA10 mendekati harga saat ini |
| Net foreign sell berlanjut — asing masih keluar | Sedang | Sedang | Bila asing terus exit, harga bisa menguji Rp486 sebelum naik |
| Revenue Q1 2026 -5,82% — perlambatan awal tahun | Sedang | Sedang | Perlu dikonfirmasi di Q2; bisa jadi musiman atau penurunan struktural backlog |
| Rumor Prajogo terbukti tidak terealisasi — katalis hilang | Sedang | Faktual | Rumor sudah dibantah manajemen; tidak ada lagi “cerita akuisisi” |
| Suku bunga tinggi menekan permintaan proyek | Sedang | Sedang | BI Rate 4,75% + kurs lemah = cost klien naik, proyeksi investasi ditunda |
| Free float rendah 20,46% — volatilitas di kedua arah | Sedang | Faktual | Saat tekanan jual datang, harga bisa jatuh lebih cepat dari likuiditas yang tersedia |
| Pemotongan dividen jika laba melemah | Rendah–Sedang | Rendah | Payout 34,41% masih konservatif; ruang untuk tetap bagi dividen cukup besar |
9. Rekomendasi Investasi & Aksi Praktish2
Rating: ACCUMULATE untuk investor nilai jangka menengah. Ini adalah salah satu sedikit saham di pasar Indonesia yang saat ini diperdagangkan di bawah book value sambil memiliki kinerja fundamentally solid.
| Tranche | Level Harga | % Portofolio | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Tranche 1 | Rp520–570 | 2% | Entry bertahap, tidak rush. RSI mendekati oversold di level ini |
| Tranche 2 | Rp480–510 | 2% | Add jika koreksi berlanjut ke zona support terkuat |
| Stop-loss struktural | Penutupan di bawah Rp460 | — | Break di bawah ini berarti tekanan sistemik lebih besar dari perkiraan |
Target 1: Rp700–750 (recovery ke zona konsolidasi sebelum pump besar, +25–35% dari Rp555)
Target 2: Rp900–950 (re-rating ke P/E 10–12x dengan laba FY2026 terjaga)
Dividend: Antisipasi dividen sekitar Rp20–25/saham (Juni 2026, ex-date sekitar Mei–Juni). Pada harga Rp555, yield sekitar 3,6–4,5%.
Strategi: akumulasi sabar di zona support, biarkan teknikal berbalik, panen dividen sambil tunggu re-rating fundamental.
10. Checklist Monitoringh2
Metrik fundamental kunci:
- Revenue Q2 2026 — harus positif YoY untuk konfirmasi momentum tidak hilang
- Backlog kontrak baru yang diraih di Q1–Q2 2026
- Gross margin — harus bertahan di atas 10% (FY2025: ~11,4%)
- Update nilai investasi di JAP — apakah ada pengakuan keuntungan dari entitas asosiasi
- FCF — harus tetap positif; warning jika negatif 2 kuartal berturut-turut
Aksi korporasi yang dipantau:
- Pengumuman dividen 2025 (biasanya Mei–Juni) — konfirmasi payout ratio
- Potensi buyback: dengan net cash Rp318 miliar dan harga di bawah book, ini opsi yang sangat logis
- Perubahan kepemilikan Saratoga — apakah terus menjual atau sudah berhenti?
- Update kepemilikan SSIA (pengendali) — apakah ada perubahan strategis?
- Kontrak besar baru: hotel, apartemen mewah, data center, RS
Regulasi & makro:
- Keputusan BI Rate — penurunan suku bunga adalah katalis utama untuk sektor konstruksi
- Kebijakan anggaran infrastruktur pemerintah 2027 — NRCA bisa masuk jika ada proyek gedung pemerintah
- Tol Patimban: progres realisasi traffic dan operasional
Red flags / exit signals:
- Revenue 3 kuartal berturut-turut negatif YoY
- Backlog tidak bertumbuh atau bahkan menyusut dalam 2 laporan berturut-turut
- Net cash turun di bawah Rp100 miliar (berarti kas habis untuk operasional atau capex berlebih)
- Pemotongan dividen secara signifikan (di bawah Rp10/saham)
- Harga tembus Rp460 dengan volume tinggi
Katalis positif 12 bulan:
- Penurunan BI Rate — langsung dongkrak sentimen konstruksi dan properti
- Kontrak proyek data center (boom data center 2026 adalah peluang nyata)
- JAP mulai membagi dividen atau ada pengakuan nilai aset
- Buyback saham oleh manajemen / SSIA
- Masuknya investor institusional baru sebagai akumulasi oportunistik di level ini
11. Kesimpulanh2
NRCA menawarkan apa yang bisa disebut “value investing yang sesungguhnya.” Bukan spekulasi backdoor listing, bukan transformasi bisnis yang belum terbukti, bukan momentum pump yang sedang berakhir. NRCA punya laba nyata (Rp173 miliar TTM), revenue nyata (Rp3,56 triliun), dividen nyata (Rp22/saham), dan neraca bersih (net cash Rp318 miliar).
Harga Rp555 ini adalah produk dari dua hal yang bertabrakan: pertama, pump yang tidak wajar ke Rp2.160 berbasis rumor akuisisi yang tidak terkonfirmasi; kedua, normalisasi yang overshooting karena sentimen negatif sektoral (BUMN Karya rugi triliunan) dan IHSG yang volatile. NRCA terkena “guilt by association” dengan sektor konstruksi yang sedang dalam tekanan, padahal model bisnisnya jauh lebih sehat dari rata-rata.
Dibandingkan TOTL (peer swasta terkuat) yang saat ini diperdagangkan di premium, NRCA di P/E 8x dan P/B 0,99x adalah anomali yang seharusnya terkoreksi ke atas — bukan terus ke bawah — seiring waktu. Investor yang punya kesabaran 12–18 bulan, masuk di Rp520–570, dan tidak panik pada volatilitas harian, memiliki probabilitas risk-reward yang paling menarik sejauh ini.
Disclaimerh2
Analisis ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi, bukan rekomendasi personal beli atau jual. Data bersumber dari laporan keuangan publik, keterbukaan informasi BEI, Kontan, PintarSaham, IndoPremier, Stockbit, dan TradingView, namun akurasinya tidak dijamin. Keputusan investasi sepenuhnya tanggung jawab masing-masing investor; konsultasikan dengan penasihat keuangan berlisensi sebelum bertransaksi.
Comments